Jumat, 15 Agustus 2008

Rokok Harus Berlabel Haram

Pendapat keharaman rokok sudah lama didebatkan oleh para ulama tetapi sampai saat ini belum pernah dilakukan penelusuran apa saja kandungan bahan pembuatan rokok dan bagaimana cara membuatnya. Pasti semua setuju bagi orang Islam bahwa alkohol adalah haram. Walaupun sedikit kandungan barang haramnya maka haramlah barang konsumsi tersebut.

Nah, tahukah bila dalam proses pembuatan rokok juga mencampurkan etil alkohol ke dalam tembakau? Proses pembuatan rokok di Indonesia yang berbahan baku utama tembakau dan cengkeh diberi bumbu flavour essence (sauce) yang membuat rokok kretek Indonesia berasa khas. Sauce dicampurkan ke tembakau dengan cara dilarutkan dan diencerkan terlebih dahulu dalam etil lkohol. Tak pelak lagi etil alkohol yang melarutkan sauce inilah yang kemudian diserap oleh tembakau sehingga menimbulkan rasa yang khas rokok kretek. Demikian juga dengan pembuatan rasa rokok menthol, rokok capuccinno, dll. Apabila dalam proses pembuatan rokok menggunakan alkohol yang sudah disepakati haram bukankah berarti rokok juga haram?

Penjelasan bahwa proses pembuatan rokok menggunakan etil alkohol saya peroleh kemarin ketika diajak rekan sejawat mengikuti sosialisasi UU No.39/2007 tentang cukai. Penjelasan secara jelas oleh seorang pejabat Bea Cukai dari provinsi Jateng tentang cukai, salah satunya cukai tembakau di pabrik rokok. Proses pembuatan rokok yang ternyata menggunakan etil alkohol itu menggelitik keingintahuan saya yang kebetulan juga sedang hangat berita tentang usulan Kak Seto kepada MUI untuk mengharamkan rokok.

Saya mengajukan pertanyaan pada narasumber sosialisasi tentang kemungkinan pencantuman label haram pada rokok karena secara hukum (Islam) ada yang mengharamkan berdasar kemudharatannya serta penjelasan tentang pencampuran alkohol dalam pembuatan rokok di pabrik. Sudah layak dan saatnya rokok diberi label haram pada kemasannya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen muslim.

Apabila saat ini pencantuman peringatan pengaruh kesehatan pada kemasan hanya bersifat hiasan maka label haram yang lebih penting juga seharusnya diberikan pada kemasan rokok. Seperti halnya makanan yang mengandung babi diberi gambar babi untuk memberikan penjelasan pada konsumen. Bila label haram itu menjadi wewenang MUI maka LPOM juga harus bertindak mengharuskan produsen rokok mencantumkan bahan pembuat rokok dan kandungannya.

Obat-obatan yang notabene membuat sehat diharuskan mencantumkan bahan pembuatnya maka rokok yang membuat sakit dan haram juga seharusnya mencantumkan bahan pembuatannya dan kandungan di dalamnya. Terserah nanti apabila sudah diberi label haram konsumen tetap nekad berarti resiko dunia akherat ditanggung sendiri.

Jawaban pemerintah berkaitan dengan haramnya rokok selalu sama dan klise yaitu efek domino dari sudut pandang ekonomi saja tanpa memikirkan sudut pandang aqidah umat Islam yang mayoritas di Indonesia. Apakah karena cukai rokok pada tahun 2007 menyumbang kas negara sebesar Rp 44,663 trilyun?

Sebelumnya saya posting di : http://elfarid.multiply.com/journal/compose/735

Kamis, 24 April 2008

CUCI MATA PAGI

Ada seorang kawan (laki-laki) yang berpendapat bahwa kecantikan alami perempuan dapat dilihat ketika bangun tidur. Alasannya ketika bangun tidur penampilannya adalah apa adanya tanpa make up dan tempelan macam-macam. Masalahnya perempuan keluar rumah pasti setelah berdandan, jadi mustahil melihat kecantikan alami itu.

Nah, saya secara tidak sengaja menemukan celah untuk membuktikan teori kawan tadi. Pada pagi hari (04.00 - 06.00) biasanya memang belum sempat dandan ketika keluar rumah. Salah satu kegiatan perempuan pada saat itu yaitu berbelanja pagi, bisa membeli sarapan atau membeli sayuran.

Sebenarnya saya baru menyadari celah itu ketika kadang menggantikan rutinitas belanja pagi, maklum punya anak kecil harus bergantian tugas dengan istri. Bila membeli sarapan atau belanja sayur di warung pasti ketemunya ibu-ibu. Mulai dari ibu-ibu yang tua sampai yang muda dan kadang sempat pangling ketika bertemu. Di perumahan yang bermacam tipe orang ada menjadi memperkaya khasanah untukmemahami kecantikan alami tadi.

Bagaimana tidak pangling tampilan ibu-ibu memang benar-benar ala kadarnya. Ada yang keseharian ke kantor berkerudung ketika belanja pagi itu hanya memakai daster yang cenderung mini tanpa lengan. Atau kadang ada yang masih acak-acakan. Parahnya lagi ada yang masih terkantuk-kantuk sambil menyeret kaki memaksakan diri belanja, barangkali semalaman anak atau suaminya rewel .

Saya kemudian teringat kebiasaan di daerah yang banyak kos-kosan juga mirip. Anak kos (laki-laki dan perempuan) pada pagi hari juga tampil seadanya ketika keluar membeli sarapan. Memang pada saat itulah saat yang tepat untuk melihat penampilan alami tanpa hiasan warna-warni yang menyembunyikan segala kekurangan untuk menambah kepercayaan diri dan menipu orang lain .

Bila mendapat giliran belanja pagi karena si kecil rewel walau agak jengah kadang istri saya justru menggoda, "Gak apa-apa belanja, sekalian cuci mata pagi."

Senin, 21 April 2008

HARI BUMI, TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

Hari ini 22 April 2008 merupakan Hari Bumi ke-38.Hari Bumi yang diperingati pada tanggal 22 April setiap tahunnya menandai hari jadi lahirnya sebuah perubahan pergerakan kepedulian terhadap lingkungan pada tahun 1970.

Hari Bumi lahir atas prakarsa seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson. Saat itu ia melakukan protes secara nasional terhadap kalangan politik terkait permasalahan lingkungan. Ia mendesak agar isu-isu tersebut dimasukkan dalam agenda nasional.

Perjuangan Gaylord Nelson dimulai sekitar lebih dari 7 tahun sebelum Hari Bumi pertama. Pada awalnya Gaylord berharap pemikirannya tercapai melalui kunjungan yang dilakukan presiden Kennedy ke sebelas negara bagian pada September 1963, namun dengan beberapa alasan kunjungan tersebut tidak mampu membawa isu lingkungan ke dalam agenda nasional.
Upaya terus dilakukan Gaylord untuk merealisasikan idenya.

Setelah tur Kennedy, Gaylord melakukan kampanyenya sendiri ke beberapa negara bagian.
Di seluruh pelosok negara, bukti penurunan kualitas lingkungan terjadi di mana-mana.

bumi semakin tua

Bumi kita yang semakin menua menanggung beban yang semakin berat akibat aktifitas manusia. Secara alami sebenarnya bumi mampu memulihkan kerusakannya apabila siklusnya tidak berubah. Ketika manusia tidak bijak memelihara lingkungan tempat hidupnya maka berakibat siklus pemulihan bumi menjadi normal terganggu. Pemanasan global (global warming) yang menjadi fokus umat manusia hanyalah salah satu akibat yang mulai terasa.

Polusi udara yang sangat hebat menyebabkan panas matahari terjebak dalam atmosfir bumi sehingga menaikkan suhu bumi. Belum lagi pepohonan yang dibabat habis sehingga daur ulang karbon di udara menjadi terganggu sehingga karbon menjadi salah satu unsur yang mematikan di udara.

Akankah kita tetap tidak peduli dengan bumi tempat kita hidup? Bagaimana tanggung jawab manusia sebagai khalifah yang bertugas memelihara bumi? Tugas manusia memang sangat berat tetapi Sang Pencipta bumi pasti sudah mengukur kemampuannya, maka tidak dipilih jin atau malaikat sebagai Sang Penjaga bumi.

Bacaan: Asal Muasal Makna Hari Bumi 22 April; Menyambut Hari Bumi 22 April